Senin, 24 Agustus 2015

FLORES BUNGA NUSA TENGGARA TIMUR



Flores merupakan salah satu pulau yang dimiliki oleh Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Kata “Flores” sendiri berasal dari bahasa Portugis yang berarti "bunga".  Sesuai dengan arti katanya maka Pulau Flores memang ibarat bunga yang cantik di Kepulauan Nusa Tenggara Timur.  Pulau seluas 14.300 km2 ini menyimpan berbagai tempat wisata yang indah dengan kabupaten-kabupaten yang dimilikinya, yaitu Manggarai, Manggarai Timur, Ngadha, Ende, Sikka, Flores Timur, dan Lembata. Beberapa destinasi wisata yang terkenal di Flores dan kepulauannya yaitu:
1.    Danau Kelimutu, terletak di Desa Koanara, Kecamatan Wolowaru atau sekitar 66 km dari Kota Ende dan 83 km dari Maumere, serta terletak di puncak Taman Nasional Kelimutu. Konon keunikan danau ini terletak pada tiga warna berbeda yang dimilikinya. 
2.    Gua Liang Bua, terletak di Kabupaten Manggarai, 14 km dari ibukota Manggarai, Ruteng. Konon selain keindahannya, gua ini terkenal karena merupakan tempat ditemukannya fosil tengkorak manusia purba berukuran pendek yang disebut sebagai Homo floresiensis
   3. Labuan Bajo, merupakan pelabuhan yang menjadi pintu masuk ke Taman Nasional Komodo. Pemandangan alamnya sangat indah. Selain dapat mengunjungi Gua Batu Cermin di Labuan Bajo, dari pelabuhan ini juga kita dapat mengunjungi gugusan  pulau-pulau yang menghadap ke pelabuhan tersebut, seperti Pulau Bidadari, Pulau Kanawa, Pulau Kukusan, dan Pulau Serayu. Saya sendiri tidak sempat mengunjungi semua pulau tersebut, tetapi saya dapat menikmati pemandangannya saat saya berkeliling mengitari gugusan pulau-pulau itu ketika saya menuju dan kembali dari Pulau Komodo. Pemandangan yang memang sangat indah.


    4.     Taman Nasional Komodo, merupakan tempat favorit wisatawan yang mengunjungi Flores. Di pulau ini pengunjung dapat bercengkerama dengan komodo si binatang purba dari jarak dekat dengan bimbingan pemandu wisata. Secara lebih detil, kisah tentang Pulau Komodo akan saya tuliskan dalam artikel tersendiri di blog ini.

5.       Pantai Pink, artistik dengan hamparan pasirnya yang berwarna merah muda. Konon katanya, hamparan pasir seperti ini hanya ditemukan di 7 wilayah negara, yaitu di Indonesia, Bermuda, Filipina, Italia, Yunani, Bahamas, dan Karibia. Sayangnya saya tidak sempat mendarat di pantai ini, kapal motor saya hanya melewati pulaunya, tetapi cukup bagi saya dengan melihat hamparan pasir pantainya dari jauh.
6.       Pantai Koka, terletak di Kabupaten Sikka, terkenal dengan hamparan pasir pantai berwarna putih dengan air laut yang jernih serta pemandangannya yang indah.
7.       Pulau Kanawa, terletak 15 km dari Labuan Bajo dengan luas sekitar 32 hektar. Pulau ini mempunyai pantai dengan pasir putihnya yang indah, airnya yang sangat jernih sehingga menampakkan keindahan karang bawah lautnya. Di sekitar pulau ini juga masih banyak ditemukan hewan-hewan laut seperti hiu, paus, dan hewan-hewan menakjubkan lainnya. Saya tidak sempat mendarat di pulau ini, tetapi saat melewati perairan pulau ini dengan kapal motor saya dapat melihat di kejauhan sekelompok paus orca (Orcinus orca), yang merupakan spesies terbesar dari keluarga lumba-lumba, berlompatan seakan bermain air dengan teman-temannya. Sungguh pemandangan yang sangat langka bagi saya.
8.       Danau Sano Nggoang, terletak di Desa Wae Sano, Kecamatan Sano Nggoang, Kabupaten Manggarai Barat. Kegiatan rekreasi yang dapat dilakukan di sini adalah menunggang kuda keliling danau, mandi air panas dan tracking.
9.       Air Terjun Cunca Rami, terletak sekitar 30 km dari Labuan Bajo. Sebelum mencapai air terjun ini, pengunjung harus menyusuri Hutan Mbelling selama 30 menit sampai 1 jam perjalanan
Perjalanan Menjelajah Flores
            Tidak semua tempat dan destinasi wisata di Flores seperti yang tertulis di atas saya kunjungi. Berikut adalah pengalaman saya bersama tim menjelajah Flores selama 5 hari.
Perjalanan kami dimulai dari Yogyakarta dengan pesawat transit Denpasar kemudian ganti pesawat kecil tipe ATR untuk menuju Bandara Labuan Bajo. Dari Labuan Bajo hari sudah sore. Tujuan utama kami sebenarnya adalah Kota Borong, ibukota Kabupaten Manggarai Timur, karena ada project yang harus dikerjakan di kota ini. Oleh karena itu, setelah mampir makan sore di Labuan Bajo perjalanan kami lanjutkan dengan mobil ke Borong, Manggarai Timur. Berhubung perjalanan dari Labuan Bajo ke Borong akan sangat melelahkan karena dapat memakan waktu sekitar 6 jam dan harus melalui jalan yang berkelak-kelok dan naik turun karena alam Flores yang berbukit-bukit, maka kami transit dan menginap dulu semalam di sebuah hotel di Ruteng, Kabupaten Manggarai. Ruteng merupakan wilayah pegunungan dengan hawa yang sangat dingin, apalagi dengan hembusan angin yang sangat kencang. Paginya, barulah kami melanjutkan 2 jam perjalanan ke Kota Borong.
Borong merupakan daerah tepi pantai yang terasa sangat panas, sangat berbeda dengan Ruteng. Maka kami pun harus beradaptasi dengan perubahan cuaca yang sangat drastis ini. Borong merupakan sebuah kota kecil, lebih kecil dari Ruteng, sehingga fasilitas hotel di sini tidak sebagus di Ruteng. Di Borong hanya ada hotel-hotel kecil sederhana semacam losmen saja, sehingga untuk cuaca panas seperti ini hanya tersedia fasilitas kipas angin, tidak ada ac. Lebih parah lagi jika listrik mati, maka kipas angin sebagai satu-satunya alat penyejuk ruangan pun tidak dapat bekerja. Dapat dipastikan setiap hari ada pemadaman listrik terutama di jam-jam siang atau sore hari. Borong juga termasuk daerah kering, hanya satu sungai besar yang mengalir melewati kota ini dengan debet air yang sangat kecil pada musim kemarau, yaitu Sungai Wae Reca.
Sehari semalam di Borong, cukup banyak hal unik yang kami temukan di sini, tentang adat budaya, bahasa, makanan, dan lain-lain. Hal ini terutama karena kami diundang makan malam oleh Bapak Wakil Bupati Manggarai Timur di rumah dinas beliau, sehingga banyak cerita yang kami dapat tentang seluk-beluk Flores dan NTT. Bahkan kami masing-masing diberi kenang-kenangan sebuah kain selendang tenun khas Manggarai Timur oleh beliau. Hal yang sangat membahagiakan bagi kami. Berikut adalah hal-hal unik dan khas dari Flores, khususnya Manggarai Timur:
1.      Makanan Khas dan Kuliner
Cukup banyak makanan khas Flores atau Manggarai Timur, tetapi hanya beberapa saja yang dapat saya temukan dan nikmati. Makanan khas Manggarai Timur yang saya temui antara lain adalah kue kompiang, yaitu semacam kue yang biasa untuk roti burger tetapi dengan taburan wijen di atasnya. Kue ini bisa bertahan beberapa hari, tetapi semakin tambah hari akan semakin keras teksturnya, sehingga enaknya dihangatkan dulu sebelum dimakan, bisa dengan microwave atau digoreng dengan margarin. Konon katanya kue ini pertama kali dibuat dan dipopulerkan oleh etnis Cina yang tinggal di Manggarai Timur.
Selain kue kompiang, saya mencoba menjelajah pasar tradisional di Manggarai Timur untuk mencari sesuatu yang khas yang bisa saya bawa pulang sebagai oleh-oleh, dan saya pun menemukan gula Manggarai. Gula ini semacam gula merah yang terbuat murni dari nira aren dan dibungkus daun aren. Rasanya memang sangat khas, berbeda dengan gula merah atau gula Jawa pada umumnya.
Untuk kuliner, menu istimewa dan khas Flores adalah ikan kuah asam, semacam sup ikan yang rasanya asam segar. Ikan yang digunakan biasanya adalah ikan tuna, tetapi dapat juga menggunakan ikan kakap merah atau bandeng. Saya sendiri  lebih suka ikan tuna. Menu ikan yang lain yang tidak kalah lezatnya adalah ikan kerapu bakar dan sate ikan tuna. Semua menu berbahan dasar ikan ini sangat lezat dan cukup murah.
2.      Bahasa
Perbedaan suku bangsa di pulau Flores terutama ditandai dengan perbedaan bahasa di antara suku-suku bangsa tersebut. Perbedaannya bukan sekedar perbedaan dialek, tetapi hampir seluruh aspek bahasanya. Ada puluhan bahasa daerah yang berkembang di Flores, cukup banyak untuk ukuran pulau kecil. Hal ini dimungkinkan karena alam Flores yang berbukit-bukit sehingga dulu terbentuk isolasi geografis yang menyebabkan perbedaan bahasa di masing-masing suku yang areanya dibatasi oleh bukit-bukit tersebut. Bahasa-bahasa itu antara lain:
a.    Bahasa Manggarai untuk suku bangsa Manggarai.
b.    Bahasa Bajawa untuk suku bangsa Ngadha
c.    Bahasa Riung untuk suku bangsa Riung
d.    Bahasa Lio, dengan beberapa dialek seperti dialek Ende, dialek Lise, Nggela dan lain-lain digunakan oleh suku bangsa Lio.
e.    Bahasa Sikka untuk suku bangsa Sikka dan sebagian masyarakat kabupaten Flores Timur terutama suku Tana ai.
f.     Bahasa Lamaholot untuk orang Larantuka, Lembata, Adonara, dan Solor.
g.    Bahasa Melayu untuk orang Larantuka (dialek Melayu Larantuka)
h.    Bahasa Nage Keo untuk suku bangsa Nage Keo.
i.      Bahasa Palue untuk suku bangsa Palue.
j.      Bahasa-bahasa lain seperti bahasa Bugis, Wajo, atau Makasar yang dipakai di pulau-pulau di sebelah utara pulau Flores dan daerah pesisir.
3.      Oleh-oleh
Sesuatu yang bisa dibawa pulang sebagai oleh-oleh khas Flores adalah kain tenun. Seni ikat dan tenun merupakan kerajinan utama kaum wanita di pulau Flores. Orang Manggarai menenun kain songket. Orang Ende-Lio, orang Sikka, Larantuka dan Adonara menenun kain sarung dengan berbagai macam corak seni ikat. Sebelum tekstil dan pewarna lain dikenal, mereka menggunakan nila dan mengkudu sebagai bahan pewarna pokok. Tentu saja harga kain-kain tenun yang asli sangat mahal untuk ukuran kantong saya. Oleh karena itu, saya cukup membeli dua buah peci yang terbuat dari kain tenun khas Flores untuk oleh-oleh suami dan bapak saya seharga 60 ribu rupiah per buahnya. Saya membelinya di pertokoan Ruteng. Harga ini bisa menjadi dua kali lipat jika kita membeli di pusat oleh-oleh khas Flores “Eksotik” yang terletak di dekat Bandara Labuan Bajo. Di “Eksotik” memang dijual berbagai cinderamata khas Flores, termasuk kaos-kaos yang bertuliskan hal-hal yang berbau Flores maupun Pulau Komodo sebagai ikon wisata Flores. Sayangnya harga kaos-kaos di sini cukup mahal, tetapi jika ingin membeli kaos yang lebih murah kita bisa membelinya di pasar Labuan Bajo atau di kaki lima di depan hotel-hotel yang banyak terdapat di Labuan Bajo, meskipun kualitasnya sedikit di bawah kualitas kaos yang dijual di “Eksotik”.
4.      Adat budaya unik
Adat yang saya anggap sangat unik adalah “kepok”, yang sangat identik dengan Manggarai Timur. “Kepok kapung” yang bermakna keikhlasan hati tuan rumah menyambut tamunya itu berwujud tuak atau sopi dari seseorang tetua setempat kepada tetua tamu. Biasanya “kepok kapung” hanya kepada tamu terhormat. Selain sopi, yang biasa digunakan untuk “kepok” bisa binatang ternak seperti ayam atau kambing. Bahkan jika mengirim undangan pertemuan seperti yang kami lakukan saat akan mengadakan sosialisasi pembangunan RSUD di Manggarai Timur, maka juga dilakukan dengan adat kepok, yaitu tim kami ada yang mengantarkan undangan ke beberapa tetua adat bukan dengan selembar kertas undangan tetapi datang sendiri langsung dengan membawa sekrat sopi dan seekor ayam. Sungguh sangat unik. Sopi sendiri adalah semacam tuak yang dibuat dari air nira yang disuling dengan bambu sepanjang kurang lebih 7 meter selama minimal 1 bulan.
Budaya Manggarai yang sangat unik lainnya adalah “lingko”, yaitu tradisi pembagian sawah dan kebun, sehingga sawah menjadi berbentuk jari-jari melingkar dengan formasi menyerupai jaring laba-laba. Sawah jaring laba-laba raksasa ini adalah hal yang luar biasa, sebuah pemandangan yang berbeda dengan terasering bertingkat-tingkat.  Sayangnya waktu kami melewati lokasi sawah ini hari sudah gelap sehingga kami tidak dapat mengabadikan pemandangan menakjubkan ini.
“Lingko” adalah tanah adat yang dimiliki secara komunal dan merupakan bekal untuk memenuhi kebutuhan bersama. Tanah dibagikan pada anggota mayarakat sesuai ketentuan adat. “Lingko” diperkirakan telah ada saat manusia di Flores mulai berpindah kebiasaan dari berburu menjadi agraris yang menetap. Berikutnya terbentuk sebuah kampung yang disebut beo. Warga sebuah beo memiliki kemampuan merambah hutan untuk dijadikan lahan garapan. Berapa luas sebuah “lingko” maka itu tergantung kemampuan merambah dan jumlah masyarakat dalam sebuah beo. “Lingko” tidak dimiliki secara orang perorangan, karena ini milik komunitas. Sistem “lingko” inilah yang ditiru dalam pengembangan tata ruang wilayah kota Borong, khususnya untuk penataan area pusat pemerintahan Kabupaten Manggarai Timur.
Flores, 3-7 Juni 2015

Senin, 11 Mei 2015

ANTARA TIGA MENARA: MASJID TIBAN, MASJID AGUNG DEMAK, MASJID AGUNG JAWA TENGAH



   Istilah tiga menara saya tujukan bagi tiga masjid yang saya sekeluarga kunjungi dalam touring liburan akhir tahun 2014 lalu, yaitu Masjid Tiban di Kabupaten Malang, Masjid Agung Demak, dan Masjid Agung Jawa Tengah di Semarang. Tiga masjid yang dibangun pada masa yang berbeda itu masing-masing memiliki kisah dan keunikan sendiri-sendiri.
1.  Masjid Tiban
Masjid Ajaib atau juga disebut Masjid Tiban sebenarnya adalah Pondok Pesantren “Salafiah Bihaaru Bahri Asali Fadlaailir Rahmah” yang terletak di tengah perkampungan yang padat penduduk, yaitu di Jalan KH. Wahid Hasyim Gang Anggur Nomor 10, RT 07/RW 06, Desa Sananrejo, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Nama yang cukup panjang tersebut mempunyai makna Laut Madu atau, "Fadilah Rohmat" . Masjid ini menjadi  terkenal karena mitos yang beredar serta keunikan arsitekturnya dengan warna dominan biru dan putih, juga bangunannya yang sangat luas.
Pertama mengenal masjid ini dari sebuah siaran televisi yang menceritakan keunikannya, hingga akhirnya membuat saya penasaran untuk mengunjunginya.  Disebut Masjid Tiban konon katanya karena masjid yang sangat megah ini dibangun tanpa diketahui oleh warga masyarakat di sekitarnya, masyarakat sekitar mengaku tidak pernah mengetahui aktivitas pembangunannya. Menurut mitos yang beredar di kalangan masyarakat sekitar, masjid tersebut dibangun dengan bantuan pasukan jin. Namun, pihak pesantren selalu menampik kabar miring tersebut, dan menjelaskan bahwa masjid yang sebenarnya secara keseluruhan merupakan kompleks pondok pesantren tersebut pembangunannya bersifat transparan karena dikerjakan sendiri oleh para santri dan jamaah. Jika masyarakat mengaku tidak melihat aktivitas pembangunannya, itu karena pembangunan pondok pesantren ini banyak dikerjakan pada malam hari. Bantahan tersebut jelas sekali dipampang di banyak tempat di dalam area Masjid Tiban tersebut dengan tulisan besar-besar “Apabila ada orang yang mengatakan bahwa ini adalah pondok tiban (pondok muncul dengan sendirinya), dibangun oleh jin dsb., itu tidak benar. Karena bangunan ini adalah Pondok Pesantren Salafiyah Bihaaru Bahri ‘Asali Fadlaailir Rahmah yang murni dibangun oleh para santri dan jamaah.”
Menurut cerita, pondok pesantren ini mulai dibangun pada Tahun 1978 oleh  Romo Kiai Haji Ahmad Bahru Mafdlaluddin Shaleh Al-Mahbub Rahmat Alam, atau yang akrab disapa Romo Kiai Ahmad. Saat ini bangunan utama pondok dan masjid tersebut telah mencapai 10 lantai, lantai 1 sampai 4 digunakan sebagai tempat kegiatan para santri, lantai 6 seperti ruang keluarga, sedangkan lantai 5, 7, dan 8 terdapat toko-toko kecil yang dikelola oleh para santriwati. Barang-barang yang dijual di toko-toko tersebut beraneka rupa, seperti berbagai macam makanan ringan, aneka pakaian, sarung, sajadah, jilbab, dan sebagainya.
Tak hanya unik, di dalam pondok pesantren tersebut juga tersedia kolam renang, dilengkapi perahu yang hanya khusus untuk dinaiki wisatawan anak-anak. Di dalam kompleks itu juga dipelihara berbagai jenis binatang seperti kijang, monyet, kelinci, aneka jenis ayam dan burung. Arsitek dari pembangunan pondok pesantren ini bukanlah seorang arsitektur lulusan Perguruan Tinggi, melainkan katanya  merupakan hasil dari istikharah pemilik pondok, KH Achmad Bahru Mafdloludin Sholeh. Karenanya, bentuknya menjadi sangat unik, seperti perpaduan Timur Tengah, Cina dan modern. Untuk pembangunannya pun tidak menggunakan alat-alat berat dan modern seperti halnya untuk membangun gedung bertingkat. Semuanya dikerjakan oleh para santri yang berjumlah 250 orang dan beberapa penduduk di sekitar pondok pesantren. Menurut cerita, Romo Kiai sudah mulai membangun pondok pesantren dengan material apa adanya. Contohnya, waktu itu adanya baru batu merah saja maka  batu merah itulah yang dipasang dengan luluh (adonan) dari tanah liat (lumpur atau ledok). Sampai saat ini, Masjid Tiban belum sepenuhnya jadi, sehingga masih terus dalam proses pembangunan.
Saat ini kompleks pondok pesantren ini menjadi tempat wisata tiban yang dipenuhi pengunjung dari berbagai daerah, termasuk wisatawan mancanegara. Rata-rata pengunjung itu datang karena penasaran dengan cerita yang beredar tentang seputar Masjid Tiban ini, termasuk saya. Pihak pengelola pondok pesantren pun menyediakan berbagai fasilitas pendukung, seperti area parkir kendaraan, cafe-cafe, outlet suvenir, toilet, mushola, dan sebagainya. Selain itu, di sepanjang jalan menuju pintu masuk area kompleks Masjid Tiban, banyak masyarakat sekitar yang memanfaatkan obyek wisata tiban ini untuk membuka warung-warung makanan maupun oleh-oleh. Musim liburan akhir tahun ketika saya berkunjung ke masjid ini, pengunjung penuh sesak, sehingga fasilitas parkir dan toilet terasa kurang.  Sebenarnya area pondok pesantren ini sangat luas, tetapi di puncak musim liburan seperti ini area yang luas tersebut terasa sesak dengan pengunjung yang sebagian besar datang secara berombongan dengan bis dari berbagai daerah.  Kondisi seperti inilah yang membuat saya malas untuk menyelusuri seluruh sudut Masjid Tiban, saya hanya masuk di dalam satu gedung di beberapa ruang dan hanya di lantai satu saja. Tangga naik ke lantai atas terasa sempit dan berkelok-kelok, bahkan kalau tidak waspada bisa tersesat di dalam ruang yang berliku-liku tersebut.
Untuk memasuki Masjid Tiban, pengunjung tidak dipungut biaya sama sekali, bahkan parkir pun gratis. Tetapi, harus melaporkan dan mencatatkan diri saat datang maupun saat akan pulang. Bagi yang ingin belanja suvenir, pengelola pondok menyediakan outlet suvenir yang menjual suvenir seperti CD tentang sejarah Masjid Tiban, payung dan mug yang bertuliskan nama dan lambang dari pondok pesantren tersebut.
Anda penasaran? Silakan kunjungi dan nikmati keunikan pondok pesantren ini...

2.     Masjid Agung Demak
Masjid Agung Demak merupakan salah satu masjid tertua di Indonesia, terletak di daerah Kauman, Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Masjid yang konon dibangun oleh para wali ini dalam sejarahnya menjadi tempat berkumpulnya para wali yang menyebarkan agama Islam di tanah Jawa yang terkenal dengan sebutan “Walisanga” . Masjid ini dibangun pada masa Raden Patah, raja pertama Kasultanan Demak sekitar Abad 15 M.
Menurut cerita, Raden Patah bersama Walisanga mendirikan masjid yang kharismatik ini dengan memberi gambar serupa bulus yang merupakan candra sengkala memet, dengan arti Sarira Sunyi Kiblating Gusti yang bermakna tahun 1401 Saka. Gambar bulus terdiri atas kepala yang berarti angka 1 (satu), 4 kaki berarti angka 4 (empat), badan bulus berarti angka 0 (nol), ekor bulus berarti angka 1 (satu). Dari simbol ini diperkirakan Masjid Agung Demak berdiri pada tahun 1401 Saka.
Masjid Agung Demak mempunyai bangunan-bangunan induk dan serambi. Bangunan induk memiliki empat tiang utama yang disebut saka guru. Salah satu dari tiang utama tersebut konon berasal dari serpihan-serpihan kayu, sehingga dinamai saka tatal. Bangunan serambi merupakan bangunan terbuka. Atapnya berbentuk limas yang ditopang delapan tiang yang disebut Saka Majapahit. Atap limas Masjid terdiri dari tiga bagian yang menggambarkan iman, Islam, dan ihsan. Di Masjid ini juga terdapat “Pintu Bledeg”, mengandung candra sengkalan yang dapat dibaca Naga Mulat Salira Wani, dengan makna tahun 1388 Saka atau 1466 M, atau 887 H.
Selain masjid, di dalam kompleks Masjid Agung Demak yang berdekatan dengan alun-alun Demak tersebut juga terdapat area makam raja-raja Kasultanan Demak dan para abdinya, juga sebuah museum yang menyimpan berbagai hal tentang riwayat Masjid Agung Demak, termasuk koleksi benda-benda bersejarah yang mencapai lebih dari 60 koleksi. Di antara koleksi tersebut adalah bagian-bagian soko guru yang rusak (sokoguru Sunan Kalijaga, sokoguru Sunan Bonang, sokoguru Sunan Gunungjati, sokoguru Sunan Ampel, sirap, kentongan, dan bedug peninggalan para wali, dua buah gentong (tempayan besar) dari Dinasti Ming hadiah dari Putri Campa pada abad ke-14,  foto-foto Masjid Agung Demak tempo dulu, lampu-lampu dan peralatan rumah tangga dari kristal dan kaca hadiah dari PB I pada tahun 1710 M, kitab suci Al-Qur’an 30 juz tulisan tangan, maket masjid Demak tahun 1845 – 1864 M, beberapa prasasti kayu memuat angka tahun 1344 Saka, kayu tiang tatal buatan Sunan Kalijaga, serta lampu robyong masjid Demak yang dipakai tahun 1923 – 1936 M. Koleksi yang paling menarik di museum ini adalah Pintu Bledeg buatan Ki Ageng Selo tahun 1466 M, dibuat dari kayu jati berukiran tumbuh-tumbuhan, suluran, jambangan, mahkota, dan kepala binatang (naga) dengan mulut terbuka menampakkan gigi-giginya yang runcing. Menurut cerita, kepala naga tersebut menggambarkan petir yang kemudian dapat ditangkap oleh Ki Ageng Selo.

3.     Masjid Agung Jawa Tengah
Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) yang beralamat di Jalan Gajah Raya No. 128, Sambirejo, Gayamsari, Semarang, Jawa Tengah ini mulai dibangun sejak tahun 2001 hingga selesai secara keseluruhan pada tahun 2006, berdiri di atas lahan 10 hektar. Masjid ini diresmikan oleh Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 14 November 2006 sebagai masjid provinsi bagi Jawa Tengah.
Menurut sejarah, pembangunan MAJT berawal dari kembalinya tanah banda (harta) wakaf milik Masjid Besar Kauman Semarang yang telah sekian lama tak tentu rimbanya. Raibnya banda wakaf Masjid Besar Kauman Semarang berawal dari proses tukar guling tanah wakaf Masjid Kauman seluas 119.127 ha yang dikelola oleh BKM (Badan Kesejahteraan Masjid) bentukan Bidang Urusan Agama Depag Jawa Tengah. Dengan alasan tanah itu tidak produktif, oleh BKM tanah itu ditukar guling dengan tanah seluas 250 ha di Demak lewat PT. Sambirejo. Kemudian berpindah tangan ke PT. Tensindo milik Tjipto Siswoyo. Hasil perjuangan banyak pihak untuk mengembalikan banda wakaf Masjid Besar Kauman Semarang itu akhirnya berbuah manis setelah melalui perjuangan panjang. MAJT sendiri dibangun di atas salah satu petak tanah banda wakaf Masjid Besar Kauman Semarang yang telah kembali tersebut. Pembangunan masjid tersebut dimulai pada hari Jumat, 6 September 2002 yang ditandai dengan pemasangan tiang pancang perdana yang dilakukan Menteri Agama Ri, Prof. Dr. H. Said Agil Husen al-Munawar, KH. MA Sahal Mahfudz dan Gubernur Jawa Tengah, H. Mardiyanto. Pemasangan tiang pancang pertama tersebut juga dihadiri oleh tujuh duta besar dari negara-negara sahabat, yaitu Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait, Mesir, Palestina, dan Abu Dabi. Dengan demikian mata dan perhatian dunia internasional pun mendukung dibangunnya Masjid Agung Jawa Tengah tersebut.  Keseluruhan pembangunan masjid ini menelan biaya sebesar Rp 198.692.340.000,-
Arsitektur MAJT merupakan perpaduan antara Jawa, Islam dan Romawi. Bangunan utama masjid beratap limas khas bangunan Jawa namun di bagian ujungnya dilengkapi dengan kubah besar berdiameter 20 meter ditambah lagi dengan 4 menara masing masing setinggi 62 meter di tiap penjuru atapnya sebagai bentuk bangunan masjid universal Islam lengkap dengan satu menara terpisah dari bangunan masjid setinggi 99 meter yang melambangkan “asmaul husna”. Di pelataran masjid juga dilengkapi payung-payung besar yang dapat dikuncupkan maupun dimekarkan seperti yang ada di Masjid Nabawi, Madinah. Gaya Romawi terlihat dari bangunan 25 pilar di pelataran masjid. Pilar pilar bergaya koloseum Athena di Romawi dihiasi kaligrafi yang indah, menyimbolkan 25 Nabi dan Rosul, di gerbang ditulis dua kalimat syahadat, pada bidang datar tertulis huruf Arab Melayu “Sucining Guno Gapuraning Gusti“.
Masjid Agung Jawa Tengah ini, selain disiapkan sebagai tempat ibadah, juga dipersiapkan sebagai objek wisata religius. Untuk menunjang tujuan tersebut, Masjid Agung ini dilengkapi dengan wisma penginapan dengan kapasitas 23 kamar berbagai kelas, sehingga para peziarah yang ingin bermalam bisa memanfaatkan fasilitas ini. Daya tarik lain dari masjid ini adalah Menara Al Husna atau Al Husna Tower yang tingginya 99 meter yang melambangkan “asmaul husna” tersebut Bagian dasar dari menara ini terdapat Studio Radio Dais (Dakwah Islam), lantai 2 dan lantai 3 digunakan sebagai Museum Kebudayaan Islam, dan di lantai 18 terdapat Kafe Muslim yang dapat berputar 360 derajat. Lantai 19 untuk menara pandang, dilengkapi 5 teropong yang bisa melihat kota Semarang. Pada awal Ramadhan 1427 H lalu, teropong di masjid ini untuk pertama kalinya digunakan untuk melihat Rukyatul Hilal oleh Tim Rukyah Jawa Tengah dengan menggunakan teropong canggih dari Boscha.
Pengunjung dapat menaiki menara ini dengan lift dengan membayar 5000 rupiah per orang. Perlu kesabaran untuk bisa menaiki lift ini karena harus antri, terurtama di saat pengunjung membludag di musim liburan seperti saat saya dan keluarga berkunjung ke sini. Menaiki menara setinggi 99 meter ini saya jadi teringat Monas di Jakarta. Untuk menjamin keamanan dan kenyamanan pengunjung, lantai puncak menara pandang ini juga dilengkapi pagar pengaman seperti halnya di Monas Jakarta.
Dari puncak menara kita bisa menikmati pemandangan Kota Semarang dan hamparan laut serta pelabuhan di salah satu sudutnya. Sungguh sangat indah, apalagi dengan semilir angin yang cukup kencang, lantai yang luas, juga dilengkapi fasilitas teropong untuk melihat keindahan kota. Dengan memasukkan koin 500 rupiah pengunjung bisa menggunakan fasilitas teropong ini. Sayangnya saat saya berkunjung, fasilitas teropong ini sedang tidak bisa digunakan.
Setelah puas, kita bisa turun dengan lift lagi ke lantai 3 atau 2 untuk melihat museum yang berisi peninggalan Islam jaman dulu, kisah masuknya islam di Jawa, dan beberapa karya islam yang menarik. Kita juga bisa melihat sejarah Islam dengan menggunakan komputer layar sentuh yang tersedia di ruangan ini.  Dari museum kita kemudian dapat turun dengan tangga ke lantai dasar. Sambil istirahat kita bisa membeli makanan minuman atau suvenir sebagai oleh-oleh. Di lantai dasar menara terdapat beberapa counter yang menjual makanan ringan dan minuman. Atau kita bisa jajan makanan di deretan warung yang tersedia di sekitar MAJT yang menjual makanan dan aneka suvenir, seperti kaos, gantungan kunci, magnet kulkas, topi, dan lain sebagainya dengan gambar MAJT. Sebagai kenang-kenangan saya pun membeli suvenir magnet kulkas bergambar MAJT tersebut.

Liburan Keluarga akhir tahun, 25-31 Desember 2014;
 Probolinggo-Bromo-Pasuruan-Malang-Surabaya-Gresik-Demak-Semarang