Rabu, 23 Mei 2012

MENIKMATI EKSOTISME LERENG GUNUNG LAWU DI TELAGA SARANGAN DAN GROJOGAN SEWU TAWANGMANGU


Begitu tahu kalau ada tanggal merah dari Hari Kamis sampai Minggu (tanggal 17-20 Mei 2012) alias long week end, dan Alhamdulillah pas ada rizki lebih di bulan ini, maka sebagai manajer keuangan keluarga, saya segera merancang sebuah acara liburan keluarga. Kali ini target saya adalah dua tempat yang dapat dijangkau dalam satu travelling sekaligus, yaitu Telaga Sarangan yang termasuk dalam Kabupaten Magetan, Jawa Timur, dan Grojogan Sewu Tawangmangu, yang termasuk dalam Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.  Kedua destinasi wisata tersebut sama-sama terletak di lereng Gunung Lawu, hanya pada sisi lereng yang berbeda.
Pada awalnya saya merancang acara liburan dengan menginap semalam di Sarangan kemudian hari ke dua baru beranjak ke Tawangmangu dan langsung pulang ke Yogayakarta.  Tetapi pada rapat mendadak keluarga barulah saya tahu bahwa Satria, anak saya yang TK ternyata hanya libur pada hari Kamis. Fajar, adik bungsu saya yang duduk di bangku SMA yang selama ini selalu saya ajak dalam setiap liburan keluarga saya, ternyata juga hanya libur di hari Kamis.  Hanya Raka, anak saya yang tengah menunggu pengumuman hasil ujian SD, yang bebas dari urusan sekolah. Ternyata, libur cuti bersama nasional tidak berlaku bagi anak-anak sekolah. Akhirnya, dari hasil musyawarah keluarga, kegiatan liburan long week end kali ini dilakukan pada Hari Minggu tanpa menginap.  Untuk itu kami harus pintar-pintar mengatur waktu agar dalam satu hari bisa mendapat dua destinasi sekaligus.
Hari Minggu pagi sekitar pukul 7.15 wib kami berangkat dengan mobil sewaan yang disetir oleh suami saya sendiri. Tujuan pertama kami adalah Telaga Sarangan. Suami saya memutuskan mengambil jalan pintas agar lebih cepat sampai ke Magetan, yaitu dengan melalui jalur pegunungan dari Gondang, Panekan sampai Magetan kemudian naik ke arah Sarangan. Suami saya mengemudikan mobil dengan santai sambil menikmati pemandangan di sepanjang perjalanan, selain juga harus berhati-hati karena jalanan penuh liku dengan tikungan curam dan mendaki atau menurun, serta banyak jalan dalam kondisi rusak atau bergelombang. Berhubung suami saya baru pertama kali melewati jalur ini, maka kami harus beberapa kali bertanya pada warga setempat yang kami lewati setiap kali ragu bahwa kami telah melalui arah jalan yang benar. Begitu perjalanan telah sampai di Kabupaten Magetan dan naik ke arah lokasi Telaga Sarangan, kami disuguhi pemandangan alam khas pegunungan yang indah.  Akhirnya, sekitar pukul 12.30 wib kami sampai di Telaga Sarangan.
Rasa capai selama di perjalanan terobati dengan pemandangan indah Telaga Sarangan, sebuah telaga tektonik yang dikepung oleh pegunungan.  Sungguh-sungguh indah.  Kami sempatkan berkeliling telaga dengan perahu motor.  Harga sewa perahu motor untuk sekali putaran adalah 40 ribu rupiah.  Harga itu telah standar dan tertulis pada papan pengumuman di setiap dermaga perahu. Pemandangan dari atas perahu begitu menakjubkan. Tetapi, yang membuat kami deg-degan adalah tidak tersedianya pelampung di perahu ini.  Itu karena di antara kami berlima hanya suami saya yang bisa berenang.  Di sepanjang perjalanan perahu, dalam hati saya terus merapal doa agar selamat sampai perahu mendarat kembali, apalagi karena Satria sudah merasa ketakutan dengan besarnya ombak telaga. Saya lihat di setiap perahu motor yang disewakan memang tidak ada yang menyediakan pelampung.  Padahal, kedalaman telaga ini sungguh luar biasa.  Waktu saya baca angka 1200 m di tepi telaga yang menunjukkan kedalaman di area sekitar tulisan tersebut, wow...saya terperanjat.  Oleh karena itulah saya merasa lega luar biasa ketika akhirnya perahu mendarat dengan selamat. 
 Hari Minggu ini lokasi wisata tersebut sangat ramai dengan pengunjung. Di sekitar telaga juga banyak penginapan dan warung-warung makan. Hal yang membuat semrawut adalah banyaknya mobil yang berlalu-lalang di jalur pejalan kaki yang mengelilingi telaga. Hal ini karena jalur pejalan kaki ini juga sekaligus sebagai jalur lalu lintas bagi kendaraan-kendaraan tamu yang menginap di tempat-tempat penginapan yang terletak di sekeliling telaga.  Keadaan ini terasa sangat mengganggu kenikmatan para pengunjung yang ingin santai menikmati pemandangan di sekeliling telaga dengan berjalan kaki atau menaiki kuda. Untuk naik kuda, tarifnya adalah 40 ribu untuk sekali putaran. Ketidaknyamanan juga terasa karena di sepanjang tepian telaga tidak disediakan tempat kongkow-kongkow yang nyaman bagi pengunjung untuk menikmati pemandangan telaga, karena tepian telaga dipenuhi oleh pangkalan perahu-perahu yang disewakan.  Tetapi semua ketidaknyamanan yang kami rasakan dapat terobati dengan indahnya pemandangan alam di sekitar telaga.
Kami tidak berlama-lama menikmati Telaga sarangan, karena kami masih punya tujuan lagi, yaitu Tawangmangu. Saya segera membeli oleh-oleh khas daerah ini yang di Yogyakarta sangat jarang ditemukan, yaitu buah kesemek. Setelah dirasa cukup membeli beberapa oleh-oleh yang akan kami bagikan untuk beberapa tetangga terdekat dan kerabat, kami segera mencari warung makan untuk makan siang. Menu sate kelinci yang merupakan menu spesial daerah pegunungan menjadi pilihan saya.  Apalagi pedagang sate kelinci telah memasang daftar harga yang standar, yaitu 10 ribu rupiah untuk satu porsi sate kelinci plus lontong. Menu itu sudah cukup mengenyangkan bagi saya dan anak-anak saya. Khusus untuk suami saya yang maniak rawon, maka menu rawon khas Jawa Timur yang menjadi pilihannya. Harga-harga makanan dan minuman di warung-warung di area wisata ini memang lebih mahal tetapi masih bisa ditoleransi, misalnya harga es jeruk yang biasanya di warung makan yang umum berkisar antara 1500-2500 rupaiah, maka di warung-warung ini menjadi 5000 rupiah per gelas.
Setelah kenyang, maka kami segera mencari mushola untuk sholat jamak dhuhur dan ashar. Cukup lama kami mencari-cari lokasi mushola, ternyata letak mushola memang sedikit tersembunyi, terletak di dekat lokasi parkiran kuda yang berdekatan dengan parkiran mobil. Setalah menjalankan ibadah sholat, kami pun segera bertolak menuju Tawangmangu.  Seperti yang diceritakan oleh beberapa teman saya, ternyata memang ada jalan baru yang menghubungkan antara Sarangan dan Tawangmangu, yang hanya memakan waktu sekitar setengah jam dengan mobil.  Jalannya mulus dan lebar, tetapi tetap harus hati-hati karena jalan berlika-liku penuh tanjakan dan turunan. Di sepanjang jalan ini pun kami bisa menikmati pemandangan alam yang sangat indah.  Telaga Sarangan dapat dinikmati dari atas bukit di tengah perjalanan dari Sarangan ke Tawangmangu.
 Sekitar pukul 14.45 wib kami tiba di lokasi wisata Tawangmangu. Sebelum memasuki area wisata Grojogan Sewu, Raka dan Satria naik kuda berkeliling di sekitar pintu masuk area Grojogan Sewu. Tarif naik kuda sudah distandarkan, yaitu 30 ribu rupiah untuk sekali putaran. Sambil menunggu Raka dan Satria selesai berkeliling baik kuda, saya membeli tiket masuk area wisata Grojogan Sewu yang berharga 5000 rupiah per orang.  Saya lihat untuk wisatawan asing, pengelola wisata ini memasang tarif lebih mahal, kalau tidak salah sekitar 16 ribu rupiah per orang.  Setelah Raka dan Satria selesai berkeliling dengan kuda, kami pun memasuki area wisata Grojogan Sewu.  Untuk mencapai lokasi Grojogan  Sewu diperlukan stamina yang bagus karena harus menuruni bukit yang lumayan melelahkan.  Untungnya pihak pengelola telah membuatkan track sampai ke lokasi grojokan atau air terjun ini. Di area ini pun kita harus hati-hati terhadap kera ekor panjang yang banyak berkeliaran di sini.  Kera-kera yang berhabitat di hutan sekitar air terjun ini senang sekali usil merebut bekal makanan yang dibawa oleh pengunjung.  Tingkah para kera itu pun terkadang menggelikan dan mengundang tawa pengunjung.  Saya sempat memotret seekor kera yang sedang mencona meneguk  minuman botol.  Populasi mereka juga cukup banyak.
 Rasa lelah setelah menuruni banyak anak tangga (tercatat ada 1250 anak tangga dari pintu masuk menuju lokasi air terjun dan kembali lagi dengan jalan berbeda menuju pintu masuk) akan terobati dengan membasuh kaki dan muka dengan segarnya air pegunungan di Grojogan Sewu.  Di sekitar air terjun juga banyak terdapat mata air, juga tersedia beberapa pancuran yang disediakan bagi pengunjung untuk membasuh muka, tangan dan kaki. Sungguh suatu pemandangan yang indah dan mempesona.  Banyak batu-batu besar dengan aneka bentuk yang tersebar secara alami di bawah air terjun. Aliran air terjun kemudian membentuk aliran sungai ke bawah. Di tepian aliran suangai kecil ini banyak pengunjung menggelar tikar, duduk lesehan sambil menikmati makanan. Tetapi, kita harus berhati-hati jika ada hujan deras,  karena air sungai dari air terjun itu dapat tiba-tiba meluap. Pihak pengelola sudah memasang pengumuman agar para pengunjung tidak terlalu dekat dengan air terjun dan harus berhati-hati jika hujan deras datang. 
 Sebenarnya di area wisata ini juga ada kolam renang bagi yang ingin berenang, dengan membayar tiket masuk khusus. Kolam renang ini dilengkapi dengan fasilitas yang cukup menarik untuk anak-anak. Kolam renang khusus dewasa pun juga tersedia. Hanya saja kami tidak siap dengan baju ganti, sehingga keinginan untuk bermain-main di arena kolam renang kami abaikan.  Cukup banyak juga warung makan dengan menu utama sate kelinci di sekitar kolam renang ini.  Harganya pun sama dengan harga sate kelinci di Sarangan tadi, yaitu 10 ribu rupiah per porsi plus lontong. Tapi karena kami sudah kenyang dari Sarangan tadi, maka kami tidak berminat untuk menikmati lesehan sate kelinci tersebut.
Setelah puas menikmati kesegaran percikan air di sekitar air terjun, kami segera kembali ke lokasi pintu masuk wisata.  Kali ini perjalanan sangat melelahkan karena merupakan perjalanan menaiki banyak anak tangga. Saya dan suami harus seringkali berhenti untuk berisitirahat sejenak, tetapi anak-anak saya seakan punya tenaga ekstra dan mendahului kami tiba lebih dulu di pintu keluar  yang sekaligus pintu masuk tadi. Tepat pukul 16.30 wib kami semua tiba di pintu keluar.  Pukul 16.30 wib adalah batas waktu terakhir masuk ke lokasi wisata air terjun ini. 
 Perjalanan liburan kali ini meskipun melelahkan tetapi sangat menyenangkan, terutama karena dalam waktu sehari kami bisa menikmati dua destinasi tanpa perlu menginap yang tentunya lebih menghemat anggaran. Pemandangan alam yang sangat indah di sepanjang lereng Gunung Lawu pun telah memanjakan dan mengobati kelelahan mata saya yang setiap harinya telah bekerja ekstra keras di depan laptop. Hal menarik yang saya rasakan adalah perbedaan hawa pegunungan yang sangat terasa antara dulu dan sekarang. Di sekitar Tahun 1987 pada saat saya berwisata ke Tawangmangu dan di sekitar Tahun 1992 saat saya berwisata ke Telaga Sarangan, saat itu saya betul-betul merasakan dinginnya hawa pegunungan.  Tetapi, di kunjungan saya kemarin ini, persiapan jaket yang kami bawa tidak lagi kami perlukan karena ternyata hawa dingin khas pegunungan itu tidak lagi saya rasakan seperti saat saya berkunjung ke lokasi-lokasi itu kala saya remaja dulu. Ah, inikah global warming?...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar